HANCUR DI HULU, BENCANA DI HILIR, AKIBAT DEFORESTASI HUTAN

 Fry...          

Hancur di Hulu, Banjir di Hilir 
Sumber : Video IG Gemoynews

Inti Berita :........                              
  • Banjir di Sumatera disebabkan oleh deforestasi dan kebijakan gagal Pemerintah. 
  • Kehilangan hutan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 76.306 hektare dalam setahun terakhir (2024-2025). 
  • Kehilangan hutan di ketiga provinsi tersebut mencapai 1,4 juta hektare dalam 10 tahun terakhir (2016-2025). 
  • Gelondongan kayu besar yang terbawa banjir menjadi bukti langsung deforestasi. 
  • Pemerintah diminta untuk menghentikan pembukaan hutan dan melindungi kawasan hutan untuk mencegah bencana serupa di masa depan. 
  • Bencana di Sumatera bukan sekadar peristiwa alam, melainkan hasil kebijakan yang membiarkan alam kehilangan daya hidupnya. 
  • Sistem perlindungan Ekologis di Indonesia rapuh dan perlu diperkuat untuk mencegah Bencana Lingkungan.

GemoyNews.com    

Lubuklinggau, Sumatera Selatan - Musibah Kerusakan Infrastruktur, Korban Nyawa akibat banjir menerpah Sumatera bukan sekadar proses alam, melainkan Tragedi yang dihasilkan oleh Kebijakan Gagal, Pembiaran Sistematis dan Keputusan Negara yang mempertaruhkan keselamatan jutaan rakyatnya.

Deforestasi dan Bencana Ekologis di beberapa tempat Pulau Sumatera yang mengakibatkan Kerusakan Alam, diduga Hasil Kebijakan Gagal. 


UU Cipta Kerja, Awal Mula Bencana :

Undang-Undang Cipta Kerja yang mencabut pasal 18 UU 26/2007 telah mewajibkan menjaga minimal 30 persen kawasan hutan di setiap DAS atau Pulau, namun pembukaan hutan di hulu menjadi lebih mudah, cepat, dan luas, meninggalkan ruang hidup yang rapuh bagi manusia dan alam. 

Diperkirakan 1,2 juta hektare hutan telah hilang 

Hutan Hulu, Penyangga Kehidupan :

Faktanya, hutan di hulu adalah penyangga kehidupan. Penelitian Hutan tropis menunjukkan akar pohon mampu menahan hingga 35 persen air hujan. Imbasnya, saat hutan berkurang melewati batas kritis, lereng kehilangan pegangan. Tanah gundul tidak mampu menahan hujan, dan banjir berubah menjadi arus besar yang menyeret kayu gelondongan, tanah, dan jejak panjang eksploitasi yang selama ini dibungkus istilah 'pembangunan'. 

Kayu Gelondong saat banjir menjadi bukti, deforestasi
Video IG Gemoynews 

Bencana, Peringatan Bagi Kita : 

Bencana di Sumatera ini bukan sekadar peristiwa hujan deras, melainkan sebuah peringatan bahwa sistem perlindungan ekologis kita rapuh hingga ke akar. Peristiwa ini juga tidak datang dari langit; ia bangkit dari kebijakan yang membiarkan alam kehilangan daya hidupnya. 

Video Gemoynews


Gelondongan Kayu, Bukti Deforestasi : 

Gelondongan kayu besar yang terbawa banjir menjadi bukti langsung bahwa bencana ini tidak bisa hanya disebut sebagai 'fenomena alam'. Arus yang membawa potongan batang kayu dengan diameter besar mengindikasikan adanya penebangan yang signifikan di wilayah hulu. 

 Penebangan Hutan secara masif hingga jutaan hektare hilang

Data Kehilangan Hutan :  

Dalam setahun terakhir (2024-2025), wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kehilangan sekitar 76.306 hektare hutan. Sementara itu, analisis WALHI selama periode 2016-2025, sekitar 1,4 juta hektare hutan hilang di ketiga Provinsi tersebut. Luas ini setara dengan hampir separuh Provinsi Jawa Barat atau 21 kali luas DKI Jakarta. 

Sumber : WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) : 

                              

#Deforestasi #BanjirAceh #BanjirSumut #BanjirSumbar #Musibah #Bencanaalam #KayuGelondongan #TobaPulauLestari #gemoy #geloramoralitasyuridis